Sabtu, 01 November 2014

MAKALAH PERSIAPAN PKTM3 2013



BAB I
PENDAHULUAN
Gerakan pelajar di Indonesia dianggap mengalami kemunduran jauh dari periode awal revolusi dimana gerakan kaum pelajar menduduki faktor sejarah paling utama dibanding dengan kelompok lain seperti buruh, tani, nelayan dan kaum aristokrasi traditional. Pasca reformasi, gerakan pelajar kembali disoroti semakin melembek dan kehilangan orientasi gerakan.
IPM sebagai gerakan pelajar bercirikan modern dan islam mengalami dinamikanya sendiri. Meski secara paradigma mengalami transformasi namun sejatinya mindset sebagian besar anggota tidak berubah bahkan menghadapi persoalan internal yang tidak tuntas termasuk birokratisasi diri, elitism, problem bahasa pergerakan dan sebagainya yang menjadi hambatan tersendiri bagi proses transformasi gerakan.
 Gerakan kritis transformative adalah lintasan jauh ke depan lalu dikerdilkan kembali dengan persoalan militansi, lalu diperkuat dengan kedaulatan pelajar dan dilenyapkan dengan pragmatisme, kini muktamar terakhir menunjukkan menguatnya aliran developmentalisme dalam tubuh IPM. Ideologi semakin sirna dengan kemunculan ide pelajar kreatif—recreational yang dimanifestasikan dengan program community based tanpa bobot ideology dan miskin kerangka rekayasa social (social engineering).
 Tulisan ini akan memotret spesifik gerakan pelajar menyangkut desain sistem pendidikan di Indonesia yang mengalami kejayaan liberalisasi pendidikan secara dramatis. Bagaimana gerakan pelajar merespon, apa yang sudah dilakukan dan dicapai, metodologi apa yang cukup membantu memahami fenomena ini. Pertanyaan itu yang hendak dibincangkan dalam makalah singkat ini.


BAB II
ISI
IPM adalah sebuah organ hidup yang dinamis. Menggeliat jika ditekan, dan melawan jika terancam. Cirinya adalah bergerak seirama sejalan ketika melihat kemungkaran ditegakkan dan selalu gelisah melihat fenomena jahiliyah modern: westernisasi, kapitalisme, globalisme, dan sebagainya. Benarkah nilai-nilai positif itu masih bisa diklaim oleh kader-kader atau simpatisan? Bisakah pasukan elite IPM di level pusat wilayah dan pusat berfikir apa yang sedang terjadi setelah hampir separuh abad gerakan ini dilahirkan? Bisakah kita berfikir, refleksi kritis dan ideologis tentu akan memberikan bobot tersendiri bagi keberlangsungan kader dan pergerakan. Tidak bisa dipungkiri, bahwa bangsa ini masih butuh sumbangsih gerakan pelajar tetapi gerakan pelajar yang bagaimana yang memberikan ruang yang kondusif untuk perubahan—transformasi bangsa terutama dikalangan remaja dan pelajar Indonesia.
Salah satu ancaman tersendiri adalah muncul dari dalam atau internal faktor-faktor (kita bisa mudah mengidentifikasi ini) apabila kita mempunyai bangunan kesadaran kritis, teologis, dan transformative. Tetapi akan sulit apabila kita selalu memanjakan keanaifan dan logika developmentalis dimana persoalan semua ditambatkan pada kapasitas individu ketimbang mempersoalkan struktur dan agency (meminjam istilah Antony Gidden). Kita sendiri, tidak bisa lepas sebagai penyandang dua status dalam waktu relative bersamaan yaitu: as part of problems and as part of solution. Karena inilah kelemahan dokter sosial-ahli diagnosa dan bedah menjadi debatable dan dipertanyakan berulang-ulang.
Kita terus dituntut untuk mengingat dan merefleksikan diri dan organisasi dalam hal ini pemahaman kita terhadap reason de etre mengapa organisasi pelajar Muhammadiyah dilahirkan dan bagaimana perbedaan jati diri dengan gerakan pelajar lainnya. Persoalan jati diri ini pernah dibuat tema dalam muktamar IRM tahun 2002 di Yogyakarta. Jati diri yang krisis adalah ibarat seorang sufi kehilangan tongkat kendalinya dan seperti astronot kehilangan kompas. Sementara kita sering kali terjebak pada cara pandang developmentalisme, linear dan positifis meski beberapa periode silam menggempurnya dengan pengenalan teori-teori gerakan radikal dan madzab ilmu sosial kritis yang dimanifestasikan dalam gerakan kritis-transformatif yang lagi-lagi oleh banyak elite wlayah dinilai gagasan ini terlalu ekslusif, tidak popular/merakyat dan tidak membumi. Ini adalah problem bahasa perubahan (language of transformation) atau bahasa distribusi konsep atau gagasan dari model top-down diharapkan juga muncul gerakan bahasa perubahan dari bottom-up.
Jadi, sampai dimana gerakan pelajar Muhammadiyah? (beberapa hari lalu saya mencari jawab dengan berfikir ala Rostow dalam system perkembangan masyarakat ekonomi, aka Chatarjee soal kebangkitan India melalui tiga momentum utama yaitu keberangkatan (moment of departure), manufer (the moment of maneuver), dan kedatangan (moment of arrival), dan berfikir revolusioner ala Moore dan Skocpol dengan penekanan pada historical continuity. Namun cara berfikir itu belum banyak membantu kalau kita terus berada terpisah tembok dengan basis sosial gerakan. Siapa basis sosial gerakan? Apa prasyarat utama (social requisites) perubahan dalam gerakan? Bagaimana argumentasi kita kalau untuk mengatakan bahwa gerakan pelajar ini tidak dikatakan failed movement atau failing movement? Setidaknya kita bisa memposisikan gerakan pelajar secara jelas sehingga ke tahapan mana kita juga sudah terfikirkan sehingga aktifisme IPM dalam sejarah bukan semata-mata melanjutkan masa lalu tanpa kejelasan masa depan, atau hanya sekedar mengisi ruang hampa dalam sejarah Indonesia tanpa memberikan makna eksistensi dan konstribusi yang maksimal (instead of minimalized gerakan).
Persoalan militansi, loyalitas, dan semangat juang sering dianggap absurd (tidak mungkin), tidak ada jalan keluar alias deadlock dan justifikasi ini diamini aktifis sendiri tentu persoalan semakin rumit sebab ada kesalahan berfikir yang tidak solutif. Paradigma kritis-transformatif, Dilatihkan disetiap jenjang perkadaeran, tapi bisa dievaluasi seberapa besar teori-teori itu dapat dipekerjakan secara maksimal. Atau jangan-jangan absurditas itu muncul tepat sehari setelah pembagian sertifikat TMU? Absurd jika kita berfikir absurd karena kita secara tidak langsung menempatkan diri sebagai bagian persoalan dari pada bagian solusi.
Ada beberapa asumsi bahwa dua periode terakhir ini oreientasi gerakan elit sangat berhaluan radikal dalam hal publikasi media. Image building dalam berbagai press release memadati berita koran nasional dan lokal. Tentu saja ini banyak sisi positifnya dan sempat menjadi mimpi periode-peridoe sebelumnya. Jika nekat kita diminta bertanya apa dampak siginifakan dari gerakan melalui media? Tidak terfikir suara-suara kritis kembali diwacanakan melalui media sendiri secara massif? Ini adalah pertanyaan diskusi dan saya hendak mengajak untuk membaca dan mamehami politik keseharian yang dilakukan pelajar dan orangtua bagaimana mereka mengekpersikan komplain secara natural/alamiah yang sebenarnya jika massif kita kategorikan sebagai bentuk politik keseharian baik disadari atau tidak. Perilaku ‘menyimpang;, simbolik, private itu akan memberikan dampak besar sebagiamana perubahan kebijakan pada kasus perkebunan berbasiss kolektifitas di veietnam pada tahun 1970-an. Bagiamana dengan kebijakan Ujian Nasional, setelah sekian tahun kita lawan? Adakah tanda-tanda perubahan? Kenapa tidak berubah dan perubahan apa yang kita kehendaki. Ini juga bisa dibantu dengan analisis menggunakan game theory entah itu prisoner dilema atau stag hunt.
Di dalam buku Mansur Faqih mengenai bagaimana paradigm kritis dibanagun dengan bahasa merakyat yang dikejawantahkan dalam bukunya “jalan lain”. Di situlah sebenarnya inti gerakan kritis transformative IPM—bentuk-bentuk advokasi social digalakan oleh kelompok intelektual (terpelajar) menerabas batang ruang ethnic, kelas pekerja, dan profesi. Beliau sendiri orang yang sangat besar kontribusinya terhdap munculnya gagasan gerakan kritis transformative yang kemudian ditanfidzkan dari muktamar IRM 2004 di Lampung. Di sini saya tidak hendak membahas kembali Ansos dan munculnya gerakan kritis transformative.
Ada dua hal yang saya coba diskusikan untuk memahami gerakan pelajar pasca reformasi 1998 dimana gerakan pelajar dianggap kehilangan momentum, kebuntuan akal berfikir, dan lenyapnya common enemy. Mitos baru diciptakan tetapi alat untuk mengendalikan alias antivirus tidak dikembangkan dengan baik sehingga jumlah persoalan melebihi kapasitas dan kemampuan control. Dua pendekatan untuk melihat IPM sebagai gerakan intelektual untuk perubahan setidaknya ada dua teori yang mencoba menjawab secara singkat yaitu pertama teori gerakan sosial, resources mobilization , game theory, dan politik keseharian.
Pertama, gerakan social bukanlah hal baru bahkan kita sudah mengenal istilah gerakan sosial baru semenjak beberapa tahun silam 4 periode muktamar lalu. Di mana gerakan ini bercirikan non violence movement. Gerakan social ‘lama’ diikuti dengan berdarah-darah dala bentuk perubahan sosial atau rebellion dan berbagai bentuk konflik lainnya baik horizontal, anti colonial, atau rakyat vs. negara. Gerakan social ini sudah jarang terjadi bisa jadi, tetapi banyak kondisi social politik yang akan membangkitkan bentuk-bentuk revolusi di zaman baru. Bisa kita tengok apa yang terjadi akhir-akhir ini di timur tengah (Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, dll).
Kedua yaitu mobilisasi kemampuan (resources mobilization) yaitu bagaimana kemampuan-kemampuan kita diorgansiasi , dipetakan dan digerakkan untuk mencapai tujuan perubahan yang kita kehendaki dan juga dikehendaki oleh aliansi kita. Apa yang kita miliki? Massa, teologi, ideology, loyalitas, dedikasi, dan niat baik yang dapat dimobilisasi. Jika peta kita sudah buat, formula sudah didesain, prekondisi untuk perubahan sudah diukur matang-matang maka yang perlu dibangun adalah aliansi, visi bersama dan bergerak. Ini kemudian yang mengarah kepada model-model gerakan pelajar turun ke jalan. Sebarapa besar kepercayaan kita kepada gerakan aksi turun ke jalan, aksi teatrikal dan sebagainya? Termasuk konferensi pers yang dimuat di harian nasional?
Ketiga kita bisa menggunakan alat bantu berupa game teori. Model ini berkembang oleh para pemikir ekonomi barat yang menempatkan rasionalitas dan tindakan massal sebagai faktor utama. Teori ini dipercaya bahwa semua aktor bertindak rasional dan berorientasi memaksimalkan keuntungan setinggi-tingginya dengan resiko terkecil. Dalam hal ini kita bisa menganalisis bagaimana negara mempertahankan UN dan IPM menolaknya. Keuntungan apa yang didapatkan pemerintah dan IPM, apa masing-masing kerugian apabila dua-duanya bersikukuh bertahan diposisi awal. Adakah kompromi? Asumsinya IPM dan negara sama-sama berburu keuntungan. 
Kalkulasi ini bisa diperdebatkan lantaran basis asumsi yang berbeda. Selain itu teori ini bukan tidak mempunyai kelemahan. Salah satu kelemahan adalah bahwa asumsi semua orang/organisasi bertingkah pola atas kendali motif ekonomi. Tetapi kita bisa merubah sedikit motif itu menjadi motif sosial. Tapi benarkan motif ekonomi tidak ada di gerakan anti UN? Bisa jadi barisan elit mendapatkan keuntungan secara tidak langsung atau langsung. Ini harus berani kita tanyakan sebab metode berfikir kritis akan juga mengkritisi diri sendiri dan tidak melulu menjatuhkan pemerintah atau otoritas korup sekalipun. Berfikir kritis, bisa memakan tuannya sendiri.
Kondisi yang kondusif untuk sebuah gerakan transformatif bisa dibuat skema sebagaimana Lipset merumuskan prasyarat sosial untuk progress demokrasi dalam negara-negara ‘pengimpor’ demokrasi barat. Lalu, persoalan bagaimana sumbangsih model pemetaan tersebut bisa kita mencoba menggunakan model serupa untuk memilih kemungkinan terjadinya radikalisasi agama di kalangan pelajar? bagaimana kita bisa memahami hubungan antara militansi dan progresifitas gerakan? Apa indikator terkait yang paling masuk akal?
Bagaimana ini membantu kita memberikan penjelasan akan kita diskusikan dan setelah diskusi baru kita mencoba memformulasikan baru gerakan kita bagaimana kita diharapkan memberikan konstribusi yang dapat dipertanggungjawabkan di hadapan massa IPM yang setia dalam perjuangan menegakkan kebebasan dan kesadaran sejati dalam bingkai ‘republik’ Islam Muhammadiyah. Kita harus mengakui, upaya pembuatan patern/formula bukan dimaksudkan untuk memudahkan persoalan tetapi sebagai alat bantu analisis dan daya baca kita memahami dan meramalkan realitas termasuk keteramplilan membangun realitas baru (politically and socially constructed).
Tiga Ranah: Official, Advokasi, dan Politik Keseharian
Secara singkat ketiga ranah ini dapat dirumuskan sebagai berikut. Ada dua ranah menurut Ben Kerkvliet yang membangi politik menjadi dua kubu besar yaitu politik konvensional dan politik sehari-hari. Politik konvensional dibagi menjadi dua yaitu official dan advokasi. Sedangkan politik sehari-hari seringkali diabaikan oleh pemerhati gerakan social dan politik lantaran tidak ada organisasi dan pattern yang tetap. Politik sendiri mengalami perluasan sebagaimana Laswell who get, what dan how, dan Weber politik sebagai pekerjaan. Politik sendiri sering dipertontonkan tanpa tujuan dan tanpa kesadaran sistemik. Politik official sering diaosiaksikan sebagai perilaku negara atau rakyat dalam perubahan posisi di lembaga negara, sementara gerakan politik advokasi digerakkan oleh NGO dan organisasi berbasis non politik. Termasuk IPM semenjak didiirkan bidang advokasi atau bahkan sebelumnya, sudah terbiasa menggalang tindakan advokasi sebagai bagian dari kerja sosial dan bersingungan langsung atau tidak dengan politik official.
Ranah gerakan formalistik atau official sering dipraktikkan dengan ciri birokratis dan struktural seperti halnya Muhammadiyah mengadopsi sistem negara modern eropa dimana negara mempunyai struktur dan fungsi yang rigid dan paten. Pun, IPM melakukan hal yang sama. Gerakan advokasi dibumikan oleh IPM pasca reformasi 1998 dimana muncul kesadaran organic bahwa kelompok tertindas (the oppressed) tidak akan mampu memperjuangkan dirinya tanpa kehadiran pihak ketiga. Pihak ketiga inilah yang oleh Mansur Fakih disebut sebagai kaum intelektual organic dimana mereka mempunyai basis keilmuwan dan militansi untuk turun ke ‘jalan’.
Sementara model gerakan yang saya adopsi dari Ben Kerkvliet dalam “everyday politics” menjadi model “everyday forms of resistance” ala James Scott sedikit sekali mendapatkan perhatian dalam jagat pergerakan di Indonesia. banyak orang memusatkan peratian kepada gerakan elite ketimbang massa, atau pucuk pimpinan ketimbang grassroot. Sebagaimana kasus gerakan unorganized ala petani di Vietnam dan Filipina mempunyai kontrisbusi besar terhadap perubahan kebijakan di level nasional mengenai perkebunan kolektif. Jika kita pakai menganalisis kebijakan UN, kenapa gerakan advokasi tidak pernah memberikan dampak perubahan kebijakan? Apa persoalan? Di sini kita diskusikan dan jika ada pengalaman hal ini akan sangat membantu ‘men-diognostik’ masalah.




BAB III
KESIMPULAN

Dari diskusi diatas setidaknya ada beberapa point kesimpulan, yaitu :
1.      Konsepsi realitas tidak pernah lepas dari subyektif-obyektif yang kita miliki. Bagaimana memberdayakan kesasdaran sejati untuk mengurangi daya rusak kesadaran palsu atau kesadaran sesat (fallacy consciousness).
2.      Ada banyak jalan untuk memahami dan mengukur realitas dan juga bagaimana melakukan analisa terhadap gerakan sosial terutama gerakan pelajar. Analisis gerakan sosial dan game theory akan sangat membantu begitu juga bagaimana kita memahami arena dan bentuk ekspresi massa (ordinary people) dalam kerangka perlawanan sehari-hari atau yang disebut Ben Kerkvliet ‘everyday politics’.
3.      Ada beberapa prakondisi sebagai prasyarat terwujudnya gerakan pelajar tranformatif dan radikal (berdaya ubah) untuk kehidupan yang lebih membebaskan, memuliakan manusia.
Diantara prerequisites itu adalah system masyarakat terbuka, egalitarian, pertembuhan ekonomi, militansi kader dan anggota, melek buku (literate), demokrasi, bahasa perubahan, kultur, ‘epistemic community’, legitimasi sosial, partisipasi aktif, dan organisasi yang fleksibel. Kondisi ini, selain kondusif untuk perubahan, ia juga memungkinkan menciptakan konsekuensi social dan berdampak secara langsung dan tidak langsung terhadap elit, kader, simpatisan, dan organisasi itu sendiri.


DAFTAR PUSTAKA

Kuntowijoyo. (2002). Radikalisasi petani : esai-esai sejarah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
http://pelajarberkemajuan.blogspot.com/2013/05/transformasi-gerakan-pelajar.html
Chusnan Masyitoh, 2009, Tasawuf Muhammadiyah, Jakarta, Kubah Ilmu
Khiruddin Azaki, 2013, Tanfidz Muktamar 18, Yogyakarta, Gramasurya
Rahmaningtiyas Eka Danik, Albana Dzar, Suroyo Agus, 2012, Indonesia Maju dan Bermartabat, Yogyakarta, Grafindo Khazanah Ilmu
Al-hamdi Ridho, 2002, Menjadi Pejuang, Yogyakarta, Bidang PIP PP IPM













Tidak ada komentar:

Posting Komentar